Senin, Januari 19, 2009

PROSPEK BISNIS 2008 -2010

PROSPEK BISNIS 2008 -2010
By andrianmalaon

ANALISA PELUANG USAHA

PENYEWAAN 1.000 TOWER TELEPON SELULER TERPADU ( BTS )


SUATU BUSINESS PLAN BERUPA TINJAUAN KERJASAMA BISNIS

ANTARA PT BINA MITRA WASKITA TRUSTELL

DENGAN

PT POS INDONESIA ( PERSERO )
DALAM HAL PEMBANGUNAN 3.000 UNIT BASE TRANSCEIVER STATION ( BTS )
TERPADU, UNTUK DISEWAKAN KEPADA OPERATOR TELEPON SELULER
di LAHAN KANTOR POS YANG ADA DISELURUH INDONESIA.

(Dengan Prakiraan Pendapatan Usaha dari hasil Kontrak Sewa per Tahun oleh Operator telepon seluler Dengan Harga Sewa Tower rata-rata per Bulan Rp 20.000.000,- x 3 Operator x 12 Bulan x 1.000 lokasi = Rp 720.000.000.000,- atau Rp 0 , 72 Triliyun x 3.000 = Rp 2,16 Triliyun
atau Dengan Prakiraan Pendapatan Kontrak Sewa selama 5 Tahun= Rp 2,16 x 5 Tahun = Rp 10 , 8 Triliyun )

A.DASAR PEMIKIRAN
Bidang Bisnis Telekomunikasi yang pernah digeluti oleh BMW TRUSTELL ketika menerima Proyek pembangunan jaringan Komunikasi di Kawasan Indonesia Timur, merupakan salah satu Bidang Bisnis yang telah memberikan Kontribusi bagi Kebesaran nama PT BMW TRSUTELL. Namun sepertinya pada saat ini Bidang Bisnis Telekomunikasi kurang dilirik atau kurang dioptimalkan peluangnya oleh Group BMW TRUSTELL. Penilaian seperti ini didasarkan kepada pengamatan bahwa diantara VENDOR maupun OPERATOR telepon Seluler yang berkibar di Indonesia saat ini bukan dari Group Bukaka. Oleh karena itu saya mencoba untuk menyampaikan Kepada Pimpinan BMW TRUSTELL Group, suatu “ Analisa Peluang Usaha dan Peluang Kerjasama Pengelolaan Base Tranceiver Station ( BTS ) Terpadu kepada para Operator Telepon seluler di Indonesia “. Sistem BTS Terpadu ini apabila ditinjau dari Beberapa aspek bisnis, semuanya memberikan gambaran yang positif.


Tinjauan - tinjauan Aspek Bisnis tersebut ialah :

1. Dari Aspek REGULASI PEMERINTAH = MENDUKUNG.

2. Dari Aspek CALON PENYEWA BTS TERPADU = MERASA DIUNTUNGKAN

3. Dari Aspek MODAL KERJA = TIDAK BESAR

bahkan bisa dilaksanakan TANPA MODAL KERJA

4. Dari Aspek PENGALAMAN PERUSAHAAN / GROUP = BERPENGALAMAN

5. Dari Aspek MASYARAKAT = DIUNTUNGKAN

6. Dari Aspek LINGKUNGAN TATA KOTA = MENDUKUNG

7. Dari ASPEK BISNIS = MENGUNTUNGKAN

8. Dari ASPEK Dukungan Lahan yang akan dipakai untuk di bangun Tower Tsb = SUDAH ADA ( Lahan Kantor Pos di seluruh Indonesia )

9. Dari ASPEK PELUANG USAHA KEDEPAN = DAPAT MENJADI PENGELOLA OPERATOR TELEPON SELULER.



Dari semua Aspek atau Indikator tersebut yang perlu diperhatikan adalah PESAING dan PERANG HARGA SEWA TOWER , karena

Bisnis ini memang Manis seperti Gula sehingga banyak semut yang mengerubutinya, namun dengan modal pengalaman dan Team Ahli yang ada di Bukaka Group, masalah faktor pesaing ini dapat diatasi.


B. LATAR BELAKANG



B.1.Perkembangan Bisnis Telepon Seluler di Indonesia dan Potensinya.

Perkembangan Bisnis Telepon Seluler di Indonesia sungguh sangat pesat, dilihat dari segi pasar potensi pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia tergolong luar biasa. Dari sekitar 220 juta penduduk diperkirakan 50%-nya atau 110 juta membutuhkan layanan jasa telekomunikasi. Dari gambaran di atas tampak potensi pasar layanan seluler masih sangat besar, potensi pasar yang menggiurkan itu mengundang minat investor asing untuk masuk ke bisnis telekomunikasi seluler, misalnya dari Singapura dan Malaysia. Di samping, potensi pasar, kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup juga ikut memacu kebutuhan atas jasa telekomunikasi seluler. Dengan berbagai layanan dan fitur yang ditawarkan oleh operator seluler kini ponsel bukan hanya menjadi media gethok tular modern, tetapi sekaligus menciptakan tren dan gaya hidup.. Telkomsel pada tahun 2007 ini akan menambah sekitar 1.500 Node B (BTS 3G) dengan alokasi dana sekitar US$ 1,5 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Hal itu dilakukan demi mempercepat penggelaran 3G ke berbagai kota di Indonesia. Sejak diluncurkan empat bulan lalu, perusahaan telah meraih pelanggan 3G sebanyak 1,6 juta pelanggan. “Pencapaian ini menjadikan Indonesia sebagai negara nomor sepuluh di dunia dan nomor lima di Asia Pasifik dalam hal jumlah pelanggan 3G,” ungkap Direktur Operasi Telkomsel, Alan Ho. Bahkan, Alan memprediksikan jumlah pelanggan 3G dunia di akhir 2007 ini akan meningkat 175% menjadi 275 juta pelanggan.



B.2. Kebijakan dari Beberapa Operator untuk menerapkan system sewa Tower.

Untuk ekspansi usahanya kedepan PT Mobile-8 Tbk (Mobile- 8) tidak akan membangun banyak tower Base Transceiver Station (BTS). Mobile-8 justru hanya akan menyewa BTS dari pengusaha BTS guna menghemat biaya pembangunan tower BTS. “Kami tidak melihat banyaknya tower BTS sebagai keuntungan, dari suatu operator seluler,” kata Presiden Direktur Mobile-8 Hidajat Tjandra J. Menurut Hidajat, menyewa BTS secara jangka panjang lebih menghemat biaya dibanding membangun sendiri. Biaya untuk membangun satu tower BTS dapat mencapai US$ 100 ribu per tower. Sementara jika menyewa hanya perlu mengeluarkan dana Rp 14-15 juta per bulan. Selain itu dengan menyewa juga akan menghemat biaya perizinan dan potensi diskon jika ada operator lain yang turut menyewa BTS tersebut. Tahun ini Mobile-8 menganggarkan belanja modal sebesar US$ 125 juta. Dan untuk tahun 2008 dan 2009 akan dianggarkan masing-masing sebesar US$ 75 juta. belanja modal yang disiapkan MObile-8 lebih rendah dibanding operator lain. Karena Mobile-8 diuntungkan dengan penggunaan frekuensi rendah 800 Mega Herzt yang cakupan BTS-nya lebih luas dibanding frekuensi yang lebih tinggi. Selain itu teknologi CDMA juga lebih murah sehingga biaya ekspansi lebih rendah dibanding operator lain. Perseroan menargetkan pelanggan sebanyak 4 juta orang, 2008 sebanyak 7 juta dan tahun 2010 sebanyak 12 juta. Mobile 8 menargetkan pendapatan tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 - Rp1,8 triliun.

B.3. Peraturan Pemerintah tentang Penggunaan Tower Terpadu.

Pemerintah akan mengesahkan regulasi tentang penggunaan menara telekomunikasi secara bersama /terpadu bulan September 2007. Aturan tersebut untuk menertibkan dan menata pembangunan menara serta mengefisiensikan biaya pengembangan jaringan operator telekomunikasi. Juru bicara Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika, Gatot S Dewa Broto, akhir pekan lalu di Jakarta, mengatakan, setiap satu menara bisa digunakan secara bersama, maksimal Lima s.d Delapan operator.

B.4. Potensi yang dimiliki oleh PT Pos Indonesia ( Persero ).

PT Pos Indonesia ( Persero ) pada saat ini memiliki lebih kurang 22.000 titik layanan termasuk kantor-kantor Pos baik yang berada di tingkat Kabupaten maupun di Kecamatan. Potensi keberadaan Kantor Pos dan lahan lahan yang tersedia sangat memungkinkan untuk dapat di optimalkan melalui Bisnis penyewaan BTS Terpadu ini kepada para Operator telepon seluler yang membutuhkannya. Apabila bisnis ini Secara pelaksanaan langsung dikelola oleh PT Pos Indonesia, tidak memungkinkan karena secara Peraturan PT Pos Indonesia Bisnis intinya bukan pada Pembangunan BTS. Oleh karena itu, dapat dilakukan kerjasama ini dengan PT BMW TRUSTELL sehingga PT Pos Indonesia dalam hal ini bisa mendapatkan keuntungan dari hasil kerjasama sewa lahan kantor.

C.PRAKIRAAN MODAL, BIAYA DAN PENDAPATAN DARI HASIL USAHA KERJASAMA INI.

C.1 Modal

- Modal yang dibutuhkan untuk membangun 1 Unit Tower = Rp 500.000.000,-

- Jika dibangun 1.000 unit Tower Terpadu, Modalnya : Rp 500.000.000,- x 1.000 lokasi = Rp 500.000.000.000,- ( Rp 0 , 5 Triliyun ) x 3.000 = 1,5 Triliyun


C.2. Prakiraan Pendapatan per Tahun

Harga Sewa Tower rata-rata per Bulan Rp 20.000.000,- x 3 Operator x 12 Bulan x 1.000 lokasi = Rp 720.000.000.000,- ( Rp 0 , 72 Triliyun ) x 3.000 = Rp 2,16 Triliyun

C.2.1. Prakiraan Pendapatan Kontrak selama 5 Tahun

= Rp 720.000.000.000,- ( Rp 2 , 16 Triliyun ) x 5 Tahun = Rp 10 , 8 Triliyun

C.3. Prakiraan Biaya dalam 1 Tahun

- Biaya Listrik + Perawatan Tower + Restribusi Pemda = Rp 3.000.000,- / Bln X 12 Bulan X 1.000 Lokasi = Rp 36.000.0000,-

C.3.1. Prakiraan Biaya dalam 5 tahun

Rp 36.000.000,- x 5 = Rp 180.000.000,-


D. SISTEM PROFIT SHARING HASIL USAHA

Dari hasil Keuntungan Bersih yang didapat, 70 % adalah Untuk BMW TRUSTELL Group 30 % Untuk PT Pos Indonesia.


E. TEKNIS PELAKSANAAN

1. Pertama sekali harus dibuatkan Memorandum Of Understanding antara PT Pos Indonesia dan PT BMW TRUSTELL sebagai Payung Hukum kerjasama ini.

2. PT Pos dan PT BMW TRUSTELL menawarkan kepada Operator Telepon seluler tentang Jasa Layanan Sewa BTS Telp Seluler yang akan dibangun di berbagai lokasi di seluruh Indonesia.

3.Jika Operator Telepon Seluler tersebut berminat untuk menyewa dan telah menandatangani surat perjanjian sewa menyewa dan telah membayar biaya sewa selama 1 Tahun di depan, barulah pelaksanaan pembangunan BTS tersebut dilaksanakan.

F. KESIMPULAN DAN SARAN
Hutan menara Telekomunikasi ( Base Transreceiver Station Jungle atau J BTS), bisa-bisa tak terelakkan, jika Pemerintah tidak dengan segera cepat mengeluarkan kebijakan penggunaan Menara terpadu. Seiring dengan pertumbuhan industri seluler di Indonesia, kebutuhan akan BTS terus meningkat pesat. Apalagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan kontur geografis yang beragam. Untuk mengatasi masalah ini, pembangunan menara telekomunikasi sangat dibutuhkan. BTS menjadi penghubung sinyal antar daerah. Semakin banyak BTS yang ditempatkan di lokasi dengan kontur geografi yang sulit, hambatan komunikasi seluler akan semakin minim. Trenggono mengungkapkan, dana yang dibutuhkan untuk pembangunan satu menara termasuk untuk Investasi Pembelian lahan masyarakat, berkisar antara Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar. Tingginya nilai investasi ini membuat sektor sewa menyewa menara BTS menjadi bisnis yang menggiurkan. ”Biaya ini, katanya, tergantung dari lokasi dan tingkat ketinggian menara tersebut. Uang sebesar Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar itu untuk pembangunan menara bts yang memiliki ketinggian antara 31-72 meter,” paparnya kemudian. Jika operator mau menyewa menara, lanjut dia, biaya yang dikeluarkan akan jauh berkurang. Ia memaparkan untuk menyewa satu buah menara, pihak operator hanya dikenakan biaya antara Rp 15 juta - Rp 20 juta per bulan. Harga sewa ini, katanya, merupakan biaya keseluruhan yang termasuk biaya sewa menara, biaya listrik, maintenance / perawatan, dan juga retribusi terhadap pemerintah. Kalau mereka (operator ) mulai menyewa menara bts, dananya kan bisa dialihkan untuk keperluan yang lain. Misalnya untuk fokus dalam memberikan layanan atau memperbanyak fitur.


G. PENUTUP

Menurut Berita dari Detik Com – Telkomsel menyiapkan anggaran belanja Rp 1 triliun untuk membangun 1.000 Node B (BTS 3G) di sepanjang 2007. Sekitar 80% di antaranya bakal dilengkapi teknologi HSPDA atau 3,5G. Hal itu diungkap Direktur Perencanaan dan Pembangunan Telkomsel, Bambang Rhiady Oemar. Menurutnya, Telkomsel selama 2006 telah membangun sebanyak 956 Node di 10 provinsi. Artinya, dengan penambahan yang dimaksud di 10 provinsi sebelumnya dan 10 provinsi tambahan, operator seluler itu akan memiliki hampir 2.000 Node B di akhir tahun. “Sedangkan jaringan yang bisa support HSDPA, sekitar 80%” ujarnya, di Gedung Telkomsel, Wisma Mulia. Teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSPDA) merupakan layanan 3G generasi lanjutan berbasis (3,5G) yang memiliki kecepatan super tinggi di kelasnya: 3.6 Mbps, atau sekitar 9-10 kali lebih cepat dari layanan 3G pada umumnya. Berdasarkan siaran pers, Sabtu (6/1/2007), anak perusahaan Telkom itu berencana membangun sebanyak 5.000 BTS, dimana 1.000 di antaranya untuk infrastruktur 3G. Total dana belanja yang siap digelontorkan tahun ini sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Penambahan BTS akan dialokasikan khusus untuk memperkuat jaringan di cakupan area kecamatan (IKC) Kalimantan hingga menembus 100%, dan sekitar 60-70% untuk wilayah Sulawesi. Telkomsel telah menggelar jaringan di 25 kota besar di 10 provinsi di Indonesia. Namun, menurut Bambang, belum seluruhnya boleh dikomersilkan karena beberapa kota belum dinyatakan lulus uji laik operasi (ULO) 3G. Adapun kota-kota yang telah dipasangi jaringan 3G Telkomsel (komersil dan non-komersil) adalah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Purwokerto, Surabaya, Malang, Medan, Pematang Siantar, Padang, Palembang, Lampung, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Batam, Mataram, Denpasar, Makasar, Balikpapan, dan Banda Aceh.

Pangsa pasar Dunia Telekomunikasi memang terbuka lebar, apabila jika dalam hal ini Group Bukaka akan didukung oleh PT Pos Indonesia ( Persero ) dengan cara bekerjasama yang saling menguntungkan untuk menggarap Proyek tersebut. Selama ini Kendala Utama dari para Penyedia jasa Pembangunan Tower adalah masalah Lahan dan masalah AKSES kepada para Operator Telepon Seluler.

Sebelum usulan ini kami ajukan kepada Pimpinan Bukaka Group kami telah mengadakan Penjajakan dan Pembicaraan Dengan DIREKSI PT Pos Indonesia ( Persero ), tentang Rencana Kerjasama ini, pada prinsipnya PT Pos Indonesia ( Persero ) sangat menyambut baik kerjasama dengan BMW TRUSTELL Group ini. Dengan masuknya kembali Bukaka Group dalam Bidang Telekomunikasi ini bahkan nantinya diharapkan dapat jadi Operator telelepon Seluler sendiri…akan semakin dapat memberikan pelayanan jasa Telekomunikasi yang terbaik bagi rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar